Bukan Karena "Dou Mbojo"

Kalau kita ke daerah Banten, nyata ada spanduk bertulisan "Ini Banten, Bung!"

Waktu itu saya ikut acara outbound di daerah Labuhan, Banten, selama 3 hari, dan isntruktur mengingatkan kami akan makna tulisan dalam spanduk tersebut. Pengertiannya, janganlah kita berlaku kurang hormat (urakan) di ranah Banten, buruk akibatnya. Lalu banyak contoh kejadian diceritakan.


Ada sebuah tulisan berjudul "Ini Dou Mbojo, Bung!" pada website Kompasiana.com yang menggugah saya untuk menanggapi. Tulisan itu tentang peristiwa 'anarki' di Bima awal tahun 2012.
Sebelumnya, sudah beberapa kali saya melewati saja tulisan tersebut karena sudah lama. Tapi judul tulisan tersebut lagi-lagi membuat hati saya tidak enak, kurang suka!

(Silahkan baca tulisan itu di sini.)

Slogan "Ini Banten, Bung!" dan "Ini Dou Mbojo, Bung!" hampir sama, tetapi kesan yang diberikan berbeda. Walaupun kalimat "Ini Dou Mbojo, Bung!" konon dikutip dari pernyataan seorang teman, tetapi membacanya sebagai judul tulisan mengesankan "arogansi" ke-dou mbojo-an yang sangat kuat.

Adat (sifat) orang Bima harus diakui yang cenderung keras, emosi tinggi, paci weki (sesumbar), disa, mbani, dan sebagainya, tetapi sesumbar seperti "Ini Dou Mbojo, Bung!" rasanya terlalu memojokkan. Sekeras-kepalanya orang Bima rasanya masih memiliki ruang untuk mengerti dan memahami orang lain, tidak selalu berbeda dengan masyarakat daerah lain. Orang Bima sama saja dengan orang Jawa atau daerah lain, dan dalam hal peristiwa yang diceritakan dalam tulisan tersebut, bereaksi yang sama terhadap tekanan dan ketidakadilan.

Jadi kalau terjadi tindakan 'anarki' seperti pada peristiwa Sape-Lambu, itu bukanlah karena "Dou Mbojo", tetapi merupakan rentetan sikap dan emosi warga masyarakat umum menghadapi tekanan dan ketidakadilan yang dirasakan. Tidak bisa dibilang bahwa itu karena "Dou Mbojo".


Sedikit catatan:

Di BimaCenter.com kami menggunakan slogan "Nami Dou Mbojo". Slogan ini antara lain kami bordir di jacket 'seragam' BimaCenter.com. Pengertiannya "Kami adalah orang Bima". Kami tidak malu mengaku/menjadi orang Bima (kenyataannya ada sebagian yang malu/menyembunyikan asalnya dari Bima). Kami bangga menjadi orang Bima (Dou Mbojo, asli atau bukan, lihat artikel di BimaCenter.com). Kami ingin menyatakan identitas sebagai orang Bima, mengenakan jacket itu di Jakarta, Yogya, dan lain-lain, dibaca orang, dan tentu ditanya dan dikomentari.

1 comment: